Minggu,Maret,15

    Dari Pompa ke Pola Aliran, Semarang Ubah Paradigma Pengendalian Banjir

    SEMARANG – Penanganan banjir di Kota Semarang kini memasuki fase baru. Pemerintah kota tidak lagi menjadikan pompa sebagai solusi tunggal, melainkan menempatkannya sebagai bagian dari sistem pengelolaan air yang lebih menyeluruh.

    Langkah ini lahir dari evaluasi banjir besar yang melanda Semarang pada 2024–2025. Curah hujan tinggi dan keterbatasan daya tampung saluran lama menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah.

    Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menekankan bahwa air memiliki karakter yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan semata. Menurutnya, pendekatan pengendalian banjir harus menyesuaikan pola alami aliran air.

    Pemkot kemudian memutuskan melakukan rekayasa ulang infrastruktur berbasis prinsip fisika sederhana. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kapasitas saluran dan pengurangan tekanan aliran.

    Pelebaran saluran pembuangan di Kaligawe menjadi salah satu proyek paling menonjol. Lebar saluran yang meningkat hingga empat kali lipat memberikan ruang yang cukup bagi air hujan untuk mengalir tanpa hambatan.

    Sebelumnya, saluran sempit membuat aliran air bergerak terlalu cepat dan mudah tersumbat. Kondisi tersebut kerap memicu genangan meski pompa telah beroperasi penuh.

    Setelah pelebaran, aliran air menjadi lebih stabil dan tidak menimbulkan tekanan berlebih pada dinding saluran. Risiko luapan pun dapat ditekan secara signifikan.

    Selain saluran, Pemkot juga memperkuat sistem penampungan air melalui pengerukan polder. Polder-polder ini berfungsi sebagai area penahan air sebelum dipindahkan ke sistem utama.

    Penambahan volume tampung membantu mengurangi beban air secara mendadak pada saat hujan lebat. Dengan demikian, sistem pengendalian banjir bekerja lebih terkontrol.

    Peran pompa tetap krusial dalam skema ini. Sekitar 220 unit pompa dioperasikan untuk mengalirkan air dari wilayah rendah menuju laut atau saluran utama.

    Penempatan pompa difokuskan di kawasan rawan seperti wilayah utara dan tengah kota. Pengoperasian pompa dilakukan secara terkoordinasi agar efisien dan tepat sasaran.

    Kerja sama dengan instansi teknis nasional dan unsur TNI turut mempercepat pelaksanaan program ini. Sinergi lintas sektor memastikan sistem berjalan secara terpadu.

    Dampak positif mulai dirasakan masyarakat berupa berkurangnya genangan berkepanjangan. Aktivitas warga dan roda ekonomi dapat kembali berjalan lebih normal saat musim hujan.

    Pendekatan ini juga dinilai lebih hemat energi karena mengandalkan solusi pasif sebelum menggunakan pompa aktif. Hal ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

    Namun demikian, pemerintah mengingatkan bahwa kesuksesan sistem tetap bergantung pada perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

    Perubahan paradigma yang dilakukan Semarang menunjukkan bahwa pengelolaan banjir membutuhkan pemahaman mendalam, bukan sekadar reaksi darurat.

    Berita Populer

    Berita Terbaru